Sabtu, 04 Mei 2013

Rencana Bisnis (Business Plan) Warnet ROWCHIE

by: Muhammad FR



A.    LATAR BELAKANG
       Pada masa sekarang, kebutuhan akan komunikasi semakin meningkat, begitu pula untuk wilayah Yogyakarta. Berbagai macam media komunikasi telah banyak beredar di masyarakat. Seiring dengan hal ini, kebutuhan akan akses internet yang praktis dan murah. Meningkatnya kebutuhan akan akses internet sedikit banyak dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya kebutuhan akan informasi, dan kebutuhan untuk saling berkomunikasi melalui jejaring sosial.

       Meningkatnya permintaan akan akses internet tersebut menimbulkan peluang untuk mendirikan warung internet (warnet) yang merupakan suatu tempat jasa persewaan akses internet dengan seperangkat komputer sebagai medianya. Warnet menjadi tempat terfavorit masyarakat, terutama untuk kalangan pelajar dan mahasiswa untuk mendapatkan akses internet. Menurut data yang dipublikasikan oleh SKH Kedaulatan Rakyat, hingga pertengahan tahun 2008 jumlah warnet yang telah berdiri di Yogyakarta mencapai sekitar 500 warnet. Jumlah ini telah jauh bertambah hingga kini, 2011. Harga sewa dan fasilitas yang ditawarkan pun bervariasi.

       Sebagian besar warnet di yogyakarta hanya menawarkan akses internet yang tidak begitu cepat dan fasilitasnya pun kurang memberi kenyamanan bagi para penggunanya. Dari beberapa hal tersebut, saya mempunyai ide bisnis warnet inovatif, ROWCHIE NET. Warnet ini menawarkan akses internet cepat hingga 8Mbps dengan monitor lcd 21 inchi dan komputer dengan processor intel core i3 yang didukung oleh VGA ATI Radeon premium graphics 512 Mb yang memberikan tampilan grafis maksimum, serta dilengkapi headphone dolby stereo. Suasana warnet pun didesain senyaman mungkin untuk pelanggan.

       ROWCHIE NET memiliki visi inovate to comfort. Selalu berinovasi untuk memberikan kenyamanan bagi pengguna. Misi yang diusung oleh ROWCHIE NET adalah:
·         Mengedepankan internet sehat, no violence and pornography
·         Menggunakan sumber daya secara efektif dan efisien
·         Mengembangkan ide untuk memaksimalkan pelayanan kepada konsumen
·         Memberikan gaji yang layak kepada karyawan

B.     ANALISIS SWOT






      

Kekuatan


·         Lebih praktis
·         Akses lebih cepat
·         Lebih nyaman
Kelemahan

·         Modal usaha tinggi
·         Harga cukup tinggi

Peluang


·         Jumlah pelajar dan mahasiswa semakin meningkat
·         Jumlah warnet inovatif masih jarang
·         Kebutuhan warnet inovatif sebagai tempat nongkrong yang nyaman semakin meningkat


Strategi Kekuatan – Peluang


·         Membagikan stiker dan brosur
·         Beriklan di majalah promosi ”Cekidot”
·         Berpromosi melalui website komunitas ”kaskus.us”
·         Membagikan voucer gratis pemakaian 30 menit
·         Memberikan free juice kepada konsumen dengan minimal pemakaian 2 jam

Strategi Kelemahan – Peluang

·  Mengajukan pinjaman modal usaha
· Membidik konsumen kalangan menengah ke atas yang bosan dengan suasana tempat tinggalnya

Ancaman


·         Banyak warnet menawarkan dengan harga murah
·         Berkembangnya bisnis rental modem
·         Harga komputer dan modem yang semakin terjangkau

Strategi Kekuatan – Ancaman


·         Selalu berinovasi dalam berpromosi
·         Mempertahankan kualitas pelayanan kepada konsumen
Strategi Kelemahan –Ancaman

·       Memaksimalkan segala sumber daya yang dimiliki untuk efisiensi dan efektifitas modal
·         Fokus pada pelayanan dan kenyamanan konsumen
· Fokus pada profit, bukan pada market share



C.    ASPEK DESAIN
Berikut merupakan desain ROWCHIE NET


Untuk tahap pertama pekerjaan interior dibuat 13 bilik klien dan 4 bilik sisanya menyusul beberapa bulan kemudian. Bangunan lantai 1 terdapat 9 bilik klien dan 1 space untuk operator, sedangkan di lantai 2 terdapat 4 bilik klien, 1 space operator plus ruang tunggu. Ukuran per bilik (145 x 130) cm dengan ketinggian 122 cm. Adapun material untuk membuat bilik antara lain: multiplex 18 mm dan 6 mm, taconsheet sebagai pelapis multiplex (menggunakan 3 warna), lem Aica Aibon, kaca es dengan ketebalan 5 mm, pengunci antar bilik menggunakan baut L (sistem knock-down), besi siku dan beberapa bahan penunjang lainnya. Sedangkan sofa bilik berukuran panjang 125 cm, lebar 70 cm, dan tinggi 80 cm. Total pengerjaan berlangsung selama 2 minggu.



Design interior warnet ini menggunakan konsep “minimalis” melalui permainan garis vertikal dan horizontal yang tegas serta kombinasi tiga warna (hitam, merah dan abu-abu). Jadi secara visual diharapkan tampil simpel namun ada aksen warna dan bentuk yang harmonis. Tentunya hal tersebut tidak akan berarti banyak apabila pengelolaan warnet dan service kepada para klien tidak optimal. Design interior hanya sebagai wadah saja, namun “isi” dari warnet tersebut jauh lebih penting.



D.    GAMBARAN UMUM RENCANA USAHA
       Dapat digambarkan secara ringkas, salah satu kelebihan dari ROWCHIE NET adalah kenyaman dan akses internet yang cepat dibandingkan dengan warnet biasa. Didukung dengan layar LCD 21 inchi, dan komputer dengan prosesor intel core i3 yang didukung oleh VGA ATI Radeon premium graphics 512 Mb yang memberikan tampilan grafis maksimum, serta dilengkapi headphone dolby stereo. Warnet ini menawarkan akses internet cepat hingga 8Mbps. Suasana warnet pun didesain senyaman mungkin untuk pelanggan.

      Biaya dalam usaha warnet inovatif ini memang besar. Seperangkat komputer dan monitor dengan spesifikasi di atas, memerlukan investasi modal sebesar Rp 4.000.000/unit. Untuk satu warnet akan terisi 20 unit, sehingga mengeluarkan biaya Rp 80.000.000. Untuk pembangunan ruangan memerlukan biaya Rp 20.000.000. Sehingga biaya tetapnya Rp 100.000.000. Sedangkan untuk memperoleh jaringan akses internet dengan kecepatan hingga 8Mbps, perlu menggunakan jasa Internet Service Provider dengan biaya Rp 6.000.000/bulan. Untuk biaya gaji karyawan total sebesar Rp 4.000.000/bulan. Usaha ini tidak mengeluarkan biaya sewa tempat, karena menggunakan tempat sendiri. Dan biaya tak terduga sebesar Rp 800.000/bulan. Jadi, total biaya variabelnya sebesar Rp 10.800.000/bulan.

      Dengan mengenakan tarif sewa per jam Rp 4.500, dengan rata-rata per hari/komputer disewa selama 21 jam, maka per hari akan mendapatkan pemasukan sebesar Rp 1.890.000. Sehingga selama sebulan jumlah pemasukannya sebesar Rp 56.700.000.
      Setelah dikurangi biaya variabel, maka keuntungan yang didapat per bulan adalah Rp 45.900.000. Sehingga dalam 3 bulan insyaallah sudah balik modal.


E.     ASPEK PEMASARAN
·         Segmentasi
     ROWCHIE NET memilih kalangan mahasiswa dengan kelas ekonomi menengah ke atas yang internet addict, dan butuh suasana beda, serta kenyamanan sebagai segmen utama.
·         Targetting
     ROWCHIE NET mempunyai target konsumen seluruh segmen utama yang tinggal di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya.
·         Potitioning
     ROWCHIE NET menerapkan strategi double benefit potitioning, yaitu akses internet cepat dan kenyamanan.

       Dalam kaitannya dengan marketing mix, maka dapat dijabarkan sebagai berikut:
·         Price
     Harga yang ditawarkan oleh ROWCHIE NET merupakan harga premium, di atas rata-rata harga sewa per jam yang ditawarkan oleh warnet lain. Harga sewa per jam di ROWCHIE NET adalah Rp 4.500. Sebab, ROWCHIE NET membidik segmen mahasiswa dengan kelas ekonomi menengah ke atas yang internet addict, dan butuh suasana beda, serta kenyamanan.
·         Product
     Jasa sewa warnet yang ROWCHIE NET tawarkan adalah akses internet dengan akses yang cepat hingga 8 Mbps, dan didukung perangkat komputer dengan spesifikasi terbaik daripada warnet lain. Kenyamanan dan suasana beda menjadi keunggulan yang ditawarkan oleh ROWCHIE NET.
·         Promotion
     Dalam berpromosi, ROWCHIE NET mendasarkan pada analisis SWOT yang telah dibuat dan kemudian menemukan strategi promosi yang efektif. Strategi-strategi tersebut seperti yang telah digambarkan pada analisis SWOT di atas.
·         Place
     ROWCHIE NET akan didirikan di daerah Babarsari. Lokasi ini sangat strategis karena berada dekat dengan lingkungan kampus (UPN, STIE YKPN, dan universitas lain) dan berada pada daerah tempat tinggal mahasiswa sesuai dengan segmen yang dibidik.


Untuk strategi lain dalam menjalankan usaha ini, seperti yang telah disampaikan pada kolom analisis SWOT sebelumnya. Pada setiap triwulan akan dilakukan evaluasi secara menyeluruh. Untuk setiap hari dilakukan pengendalian melalui seorang supervisor Sehingga dapt dilakukan tindakan korektif secara tepat.

DEFINISI OPERASIONAL VARIABEL


Muhammad Fatkhur Raukhi
07408141018
Manajemen-A
Riset Pemasaran


Definisi operasional ialah suatu definisi yang didasarkan pada karakteristik yang dapat diobservasi dari apa yang sedang didefinisikan atau “mengubah konsep-konsep yang berupa konstruk dengan kata-kata yang menggambarkan perilaku atau gejala yang dapat diamati dan yang dapat diuji dan ditentukan kebenarannya oleh orang lain” (Young, dikutip oleh Koentjarangningrat, 1991;23). Penekanan pengertian definisi operasional ialah pada kata “dapat diobservasi”. Apabila seorang peneliti melakukan suatu observasi terhadap suatu gejala atau obyek, maka peneliti lain juga dapat melakukan hal yang sama, yaitu mengidentifikasi apa yang telah didefinisikan oleh peneliti pertama. Sedangkan definisi konseptual, definisi konseptual lebih bersifat hipotetikal dan “tidak dapat diobservasi”. Karena definisi konseptual merupakan suatu konsep yang didefinisikan dengan referensi konsep yang lain. Definisi konseptual bermanfaat untuk membuat logika proses perumusan hipotesa.
Komponen Penyusunan Definisi Operasional adalah;
  1. Variabel
  2. Definisi
  3. Hasil Ukur
  4. Skala Data
  5. Cara ukur
VALIDITAS
            Validitas adalah suatu indeks yang menunjukkan alat ukur itu benar – benar mengukur apa yang diukur. Validitas atau ‘kesahihan’ menunjukkan berapa dekat alat ukur menyatakan apa yang seharusnya diukur. Validnya suatu pengukuran dipengaruhi oleh bias pengukuran. Makin besar bias pengukuran, makin kurang valid pengukuran tersebut. Kesahihan alat ukur berskala numeric dilakukan dengan membandingkan dengan alat ukur yang baku sebagai penera. Kesahihan alat ukur berskala nominal dapat dinilai dengan membandingkannya dengan alat diagnostic yang terbaik (gold standar) dan dapat dinilai spesifitas serta nilai predileksinya.
            Untuk meningkatkan kevalidan suatu pengukuran perlu diupayakan peningkatan kesahihan antara lain :
  • Melakukan pemeriksaan tanpa setahu obyek
  • Melakukan pemeriksaan tanpa identitas obyek
  • Kalibrasi alat secara berkala.
            Dalam penelitian terdapat dua validitas utama yaitu validitas internal dan validitas eksternal. Validitas internal didefinisikan sebagai validitas dimana hubungan dua variable bersifat kausal. Validitas internal menunjukkan apakah hasil studi terbebas dari kesalahan acak, bias dan factor perancu. Dengan kata lain apakah asosiasi yang diperoleh benar-benar hanya dipengaruhi oleh kedua variable yang diteliti. Suatu penelitian dengan validitas internal yang tinggi mempunyai nilai bias, kesalahan acak serta pengaruh factor perancu yang nol atau minimal. Sebaliknya, penelitian dengan kesahihan interna yang rendah menunjukkan terdapatnya bias, kesalahan acak serta factor perancu sehingga asosiasi yang ada mungkin disebabkan oleh hal selain variable yang diteliti.
            Tingkat validitas internal dipengaruhi oleh faktor – faktor seperti :
  • History, karena factor eksternal mempengaruhi hasil penelitian
  • Maturasi, adana perubahan dalam diri responden karena perubahan waktu
  • Testing/pengujian yang mempengaruhi responden dalam menjawab pertanyaan yang diberikan
  • Alat ukur yang berkaitan dengan pergantian alat ukur selama penelitian dilakukan
  • Seleksi yang merupakan akibat yang mempengaruhi hasil penelitian karena prosedur proses pemilihan responden
  • Mortalitas atau efek karena hilangnya responden yang sedang diteliti karena alasan tertentu.
            Validitas eksternal didefinisikan sebagai tingkatan dimana hasil–hasil penelitian dapat digeneralisasi ke dalam populasi, latar penelitian dan kondisi lainnya yang mirip dan waktu yang berbeda. Kesahihan eksternal menunjukkan berapa baik hasil penelitian tersebut dapat diterapkan pada populasi yang luas. Dari sample yang diteliti ke populasi target adalah kesahihan eksterna I, sedangkan dari populasi target sampai ke populasi lebih luas lagi merupakan kesahihan eksterna II. Suatu penelitian baru dapat mempunyai kesahihan eksterna yang baik apabila ia mempunyai kesahihan interna yang baik. Penelitian dengan kesahihan interna yang buruk tidak mungkin mempunyai kesahihan eksterna yang baik sehingga pertanyaan tentang validitas eksterna tidak lagi relevan.
Validitas eksternal dibagi menjadi :
  • Validitas populasi : suatu hasil penelitian dikatakan mempunyai validitas populasi jika sample yang dipilih mempunyai kemampuan untuk digeneralisasi ke tingkat yang lebih besar.
  • Validitas ekologi : hasil penelitian mempunyai validitas ekologi jika hasil studi dapat digeneralisasi ke dalam latar penelitian yang berbeda.
  • Validitas temporal : suatu studi dikatakan mempunyai validitas temporal jika hasilnya digeneralisasi ke dalam waktu yang berbeda.
REABILITAS
            Reabilitas adalah indeks yang menunjukkan sejauh mana hasil pengukuran itu tetap konsisten atau tetap asas bila dilakukan pengukuran dua kali atau lebih terhadap obyek yang sama dengan menggunakan alat ukur yang sama.
            Ketepatan alat ukur memberikan pengaruh pada kekuatan penelitian. Pengukuran yang makin tepat pada besar sample yang ditentukan mempunyai nilai yang baik dalam memperkirakan nilai rata – rata atau mean serta untuk menguji hipotesa. Keandalan suatu pengukuran dipengaruhi oleh kesalahan acak (random eror), apabila kesalahannya makin besar berarti pengukuran tersebut kurang andal.
Strategi untuk meningkatkan keandalan dalam pengukuran adalah :
  • Standarisasi cara pengukuran
  • Pelatihan pengukur
  • Penyempurnaan instrument untuk mengurangi variabilitas pengukuran
  • Automatisasi
  • Pengulangan pengukuran.
            

CONNECT!: Strategi Pemasar dalam Mengarungi Globalisasi


Muhammad Fatkhur Raukhi
07408141018/Manajemen-A
Pengantar Manajemen



CONNECT!: Strategi Pemasar dalam Mengarungi Globalisasi
            Pada era globalisasi sekarang ini, para pemasar dituntut semakin cerdas membaca peluang yang muncul. Perubahan merupakan hal yang pasti. Seperti yang dijelaskan oleh Hermawan Kartajaya, bahwa pendekatan pemasaran yang bersifat legacy sudah kurang sesuai dengan era globalisasi. Dia memaparkan suatu pendekatan baru mengenai pemasaran, yaitu: New Wave Marketing.
            New Wave Marketing yang juga dikenal sebagai 12C merupakan horizontalisasi dari 9 elemen inti. 12C adalah:
  1. Segmentation is Communication
  2. Targeting is Confirmation
  3. Positioning is Clarification
  4. Differentiation is Codification (of DNA)
  5. Product is Co-Creation
  6. Price is Currency
  7. Place is Communal Activation
  8. Promotion is Conversation
  9. Selling is Commercialization
  10. Brand is Character
  11. Service is Care
  12. Process is Collaboration
            Sebelum menjalani 12C itu, ada satu yang cukup penting, yaitu Connect!. Kita harus ‘ngeh’ dan ’nyambung’ terus dengan segala yang ada, istilahnya 24/7/365. Dalam konsep legacy, dikenal 4C, Change (perubahan teknologi, politik dan legal, ekonomi, sosial budaya, pasar) yang mengubah Competitor dan Customer, sebagai lanskap pemasaran. Company di sini harus bisa mengarungi arus perubahan yang ada.
            Pemasar harus bisa mengikuti segala perubahan. begitu pula dengan teknologi. New Wave Marketing lebih mengacu pada Connect! secara nyata. Jadi, tidak hanya Internet Marketing, Digital Marketing ataupun Online Marketing. Online memang bisa menimbulkan Excitement dan Engagement, tapi Offline jauh lebih ke Intimacy dan Enthusiasm. Bila digabungkan akan menjadi suatu CONNECTION yang bersifat Physical, Intellectual, Emotional dan Spiritual.
            Untuk bisa melakukan CONNECTION secara holistik, Pemasar harus sadar akan tiga tingkatan Connect!. Yaitu:
  1. Mobile Connect >>> Are you well-connected? baik online ataupun offline.
  2. Experiential Connect >>> How deep is your connection?
  3. Social Connect >>> How strong is your connectivity?
Pemasar yang sadar akan ketiga hal di atas dalam mempraktekkan 12C adalah pemasar yang layak disebut sebagai The Connect-Ready New Wave Marketer.

sumber:
Hermawan Kartajaya, CONNECT! SURFING NEW WAVE MARKETING, 2010, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Book Review STRATEGI PROMOSI YANG KREATIF DAN ANALISIS KASUS INTEGRATED MARKETING COMMUNICATION

by: Arif Setiyadi (07408141041)


Bagian I (Rangkuman)
           
            Dunia pemasaran tidak lepas dari beberapa konsep penting berkaitan pemasaran itu sendiri seperti konsep pemasaran, bauran pemasaran, bauran promosi dan integrated marketing communication. Hal tersebut penting karena merupakan landasan penentuan strategi perusahaan untuk meningkatkan laba mengingat paradigma pemasaran sekarang sudah berubah seiring perkembangan dan makin kompleksnya pasar dari traditional product focus   menjadi brand focus. Salah satu strategi tersebut adalah strategi promosi misalnya. Seorang pemasar sebelum dapat menyusun strategi promosi yang baik tentunya harus dapat menganalisis kondisi-kondisi di lapangan yang kemudian dikaitkan dengan konsep-konsep pemasaran tadi.
            IMC merupakan suatu sinergi, kreativitas,integrasi dan komunikasi pemasaran secara terpadu dengan memanfatkan beragam elemen komunikasi yang berbeda-beda agar tercipta koherensi yang saling mendukung secara berkelanjutan demi meningkatkan ekuitas merek dan menjalin hubungan jangka panjang dengan konsumen. IMC merupakan cara yang digunakan dalam strategi bauran promosi dan keseluruhannya merupakan bagian dari bauran pemasaran.
            Dalam IMC Process, penerapan IMC melalui IMC planning terdiri dari beberapa langkah. Yang pertama adalah identifikasi target, lalu analisis SWOT, dilanjutkan menentukan tujuan komunikasi pemasaran, kemudian menentukan strategi dan taktik serta menyusun budget dan yang terakhir adalah melakukan evaluasi efektivitas.
            Kesemua upaya tadi merujuk kepada objek yakni konsumen yang dianalisis melalui perilaku konsumen. Perilaku konsumen adalah segala sesuatu yang berupa proses yang dilakukan oleh konsumen dalam rangkaian pengambilan keputusan dalam memilih, membeli, memakai atau memanfaatkan suatu produk, jasa, gagasan serta pengalaman dalam memenuhi kebutuhan untuk mencapai kepuasan.
            Menurut Blackwell, ada 7 langkah proses konsumen dalam mengambil keputusan. Yang pertama pengenalan kebutuhan, lalu pencarian informasi, lalu evaluasi alternatif, kemudian pembelian, setelah itu pemakaian, serta evaluasi setelah pemakaian dan yang terakhir adalah pelepasan.
            Setelah semua konsep tadi telah jelas dan terpikirkan atau terencana dengan baik, maka barulah seorang pemasar dapat menyusun strategi promosi yang kreatif untuk meningkatkan penjualan. Ada tiga prinsip yang harus diperhatikan dalam menyusun strategi promosi kreatif. Yang pertama adalah save, artinya pelanggan mendapatkan keuntungan dari penghematan yang diperoleh dalam membeli suatu produk. Yang kedua adalah free, artinya pelanggan mendapatkan gratis produk tertentu apabila membeli suatu produk. Dan prinsip yang terakhir adalah win, yakni merupakan kiat yang digunakan produsen untuk menarik pelanggan melalui pemenang suatu kontes atau undian dari suatu produk.
            Selanjutnya rincian tentang cara menyusun strategi promosi yang kreatif dan kelanjutannya seperti strategi CSR, penyusunan budget, dan implementasinya serta contoh penerapannya dalam studi kasus dijelaskan dalam lima bab terakhir.

Bagian II (Analisis Buku)
A. Bahasa
            Buku ini menggunakan bahasa formal. Menurut saya penulis memilih bahasa seperti itu karena buku ini ditujukan bagi para pelaku atau praktisi bisnis, manajer, eksekutif dan akademisi. Dari segi bahasa yang digunakan tadi buku ini lebih seperti modul atau semacam buku panduan resmi dalam bermarketing. Saya menggunakan buku berjudul periklanan dan promosi yang ditulis oleh Terrence A. Shimp yang digunakan sebagai buku mata perkuliahan komunikasi pemasaran sebagai pembanding terhadap buku ini.
            Hasilnya adalah tidak jauh berbeda dengan buku yang digunakan sebagai buku perkuliahan, buku ini tergolong buku teoritis. Meskipun ini bukan buku perkuliahan namun dari bahasa penulis, penjabaran permasalahan serta penyajian penulisan dilakukan dengan bahasa yang resmi. Hal ini tentunya akan sangat monoton saat dibaca karena penyuguhannya hanya berupa bahasa teori dalam penjabarannya baik dari awal maupun akhir setiap bab. Pada contoh analisis kasusnya pun penyajian bahasa yang digunakan seperti bahasa berita dan kita sebagai pembaca dituntut menganalisis berita yang ternyata telah disajikan berikut penyelesaiannya oleh penulis secara teoritis tadi. Sehingga kita hanya menganalisis dan mungkin dituntun oleh si penulis bahwa teori-teori yang dijabarkan di bab-bab sebelumnya semua terangkum baik secara langsung maupun tersirat secara bahasa di studi kasus yang ia sajikan.
            Dari segi bahasa, selain penggunaan bahasa yang monoton dan bersifat resmi tadi, buku ini juga menurut saya terdapat ketidaklaziman atau mungkin dianggap sebagai pembeda yang menarik bagi si penulis. Tapi kembali saya sebagai pembaca menganggap hal tersebut adalah pengulangan monotonisasi melalui bahasa oleh si penulis. Ketidaklaziman tersebut adalah pada akhir-akhir buku dimana si penulis mencantumkan daftar istilah dari pembahasan-pembahasan di bab-bab yang ia kemukakan. Biasanya dalam daftar istilah cukup dicantumkan daftar kata-kata atau istilah-istilah baik teori maupun istilah asing yang kemudian penulis artikan melalui serangkaian kalimat pendek yang langsung merujuk pada inti atau arti dari istilah tersebut. Tetapi tidak halnya dibuku ini, berbagai daftar istilah yang dicantumkan, diartikan melalui rangkaian kalimat teori panjang yang penjelasannya sangat dijabarkan secara panjang lebar sehingga terkesan seperti bukan mengartikan istilah tersebut tetapi menjelaskan segala sesuatu yang berhubungan dengan istilah tersebut, jadi seperti kembali mengulang penjelasan pada bab-bab sebelumnya dimana penjelasan baik klasifikasi, identifikasi dan sebagainya tentang istilah tersebut telah diuraikan.
            Contoh tentang penjelasan daftar istilah yang terlalu panjang terdapat pada istilah affection and cognition, dimana disitu dijelaskan tentang arti dari kedua istilah tersebut. Dan bukannya berhenti lalu melanjutkan istilah lain yang perlu diartikan tapi kemudian dijelaskan lebih lanjut dan lebih terperinci tentang apa itu afeksi dan kognisi, klasifikasinya sampai contoh-contohnya. Begitu halnya dengan istilah-istilah lain yang meskipun telah dijelaskan rinci ataupun tidak di bab-bab sebelumnya namun tetap dijelaskan detail di daftar istilah, sehingga secara keseluruhan seperti adanya bab tambahan dalam buku tersebut. Berbeda dengan buku dari Terrence yang memang digunakan untuk perkuliahan, glosarium atau daftar istilah lebih dijelaskan secara langsung mengenai inti dari istilah yang ada.
B. Kekurangan Buku
            Jika diperhatikan dari judul, inti dari buku ini adalah ulasan tentang strategi promosi yang kreatif dan kaitannya dengan IMC. Hal ini disajikan penulis dari ulasan di bab-bab pertama yaitu mulai dari bab pertama pendahuluan sampai bab empat tentang perilaku konsumen. Bab-bab awal tersebut menggambarkan ulasan dari penulis tentang konsep dasar atau penjelasan awal tentang semua yang berkaitan sebelum kita melakukan strategi khusus promosi seperti penjelasan awal tentang marketing, bauran pemasaran, bauran promosi, konsep awal IMC serta perilaku konsumen sebagai objeknya. Setelah itu barulah dibab lima sampai bab akhir menjelaskan tentang bagaiamana penerapannya dan penjelasan tentang strategi promosi kreatif tadi.
            Namun dalam penjabaran materinya tidak sesederhana itu, penulis sering kali mengulang pokok bahasan yang ada di bab-bab yang berbeda. Seringkali hal yang diulang pembahasannya itu intinya adalah sama namun disampaikan dengan sudut dan bahasa yang berbeda serta penyajiannya tidak secara sistematis. Hal ini sangat membingungkan bagi pembaca, ketidakberurutan poin pembahasan dan adanya topik pengulangan meskipun dari sisi pandang dan bahasa yang berbeda namun intinya adalah sama akan sangat membuat pembaca tidak hanya bingung tetapi rentan akan kebosanan.
            Contohnya adalah pada bab kedua, dimana masalah periklanan dibahas dua kali yaitu pada subpokok bauran promosi dan IMC. Tidak ada dari keduanya yang membahas secara jelas dan terang periklanan baik dari sisi promosi maupun IMC. Keduanya tidak dibahas tentang “periklanan sebagai..” tetapi lebih kepada konsep periklanan itu sendiri, jadi terkesan bahasan periklanan di IMC hanya merupakan lanjutan dari bahasan periklanan dari bauran promosi sehingga dapat membuat bingung pembaca. Selain masalah pengulangan, isi materi yang membingungkan juga terjadi pada saat di setiap bab penulis menambahkan sub pokok bahasan-sub pokok bahasan tertentu yang tidak terlalu memiliki keterkaitan dengan bab itu sendiri. Entah maksudnya sebagai tambahan bahasan atau pelengkap tetapi terkesan tidak sinkron dengan bab yang dibahas. Semua hal tersebut diperparah dengan susunan sistematika bahasan setiap buku yang kurang teratur, seperti penyusunan urutan judul dan subpokok judul sehingga semakin membuat bingung.
            Hal tersebut dapat diketahui seperti salah satunya pada bab ketiga tentang IMC process. Bab ini intinya menjelaskan tentang tahapan IMC planning dari step satu sampai step 6. Setelah langkah terakhir tiba-tiba muncul pokok bahasan baru yang tidak ada penomoran atau pengurutan judul dan tidak berkaitan langsung dengan IMC planning, yaitu pembahasan mengenai tingkatan produk berikut contohnya, lalu tentang brand image dan semuanya dijelaskan detail meskipun tidak ada keterkaitan langsung dengan bab IMC process.
            Dari kesemua kekurangan tadi, yang paling inti menurut saya adalah, pokok dari apa yang dibahas dibuku ini adalah berupa strategi promosi yang kreatif. Artinya persepsi awal sesorang yang membaca tentunya ia akan di bimbing dan dijelaskan tentang bagaimana ia dapat melakukan strategi-strategi lengkap berpromosi dengan kreatif. Namun sayangnya, ternyata isi dari buku ini yang membahas tentang bagaimana pembaca benar-benar dibimbing berpromosi secara kreatif sangatlah kecil atau sedikit. Hanya satu bab yang benar-benar membahas hal tersebut yaitu dibab lima, selebihnya di bab lain hanya menjelaskan berbagai teori-teori yang berkaitan dengan pemasaran dan IMC.

C. Kelebihan Buku
            Teori-teori yang disajikan dalam buku ini berkaitan dengan bauran pemasaran dan bauran promosi terbilang lengkap. Bahasan-bahasan tentang teori perkuliahan yang tidak secara langsung tercantum dalam buku Terrence ternyata secara inti dan detail langsung permasalahan tercantum dibuku ini. Contohnya pada bahasan IMC di buku Terrence tidak dijelaskan detail tentang langkah-langkahnya, tetapi dibuku ini dijelaskan mendetail tentang IMC itu sendiri. Dibuku Terrence hanya menjelaskan pengertian dan ciri-cirinya yang kesemuanya sudah tertera baik secara langsung maupun tersirat dibuku karya Fredy Rangkuti ini. Meskipun banyak hal yang tidak terkait langsung dengan bahasan disetiap bab atau banyak bahasan teori tadi, namun semua dibahas secara detail dan langsung ke inti permasalahan tidak seperti pada bahasa buku Terrence yang terlalu bertele-tele.

D. Kesimpulan
            Saya berkesimpulan bahwa buku Strategi Promosi yang Kreatif dan Analisis Studi kasus IMC ini bukanlah suatu pedoman baik tentang bagaimana seseorang dapat berpromosi dengan baik secara lebih kreatif. Buku ini lebih baik dan cocok digunakan bagi mereka yang perlu tambahan pedoman teoritis tentang teori-teori mendasar berkaitan dengan promosi, marketing dan IMC serta cocok pula untuk mereka yang notabene sebagai pemula dalam terjun ke dunia bisnis atau marketing. Hal itu karena isi dari buku tersebut sebagian besar berupa ulasan teori yang mendetail tentang hal-hal berkaitan konsep marketing dan baurannya. 

Rabu, 01 Mei 2013

Kenal lebih jauh sama Toyota Avanza

Avanza merupakan sebuah mobil keluarga yang dikeluarkan oleh Toyota sejak 2003.

ingin kenal lebih lanjut dengan avanza? berikut link-nya:
 www.toyota-auto2000-karawang.blogspot.com

ada delapan poin penting kenapa harus Avanza... Check it out!!!